Breaking News

Dari Seremonial ke Pemberdayaan: Hari Santri Libatkan UMKM dan Wali Santri.

Mudirul ‘Aam Lenterahati Islamic Boarding School (LHIBS), Dr. MA. Muazar Habibi

Lombok Barat — Peringatan Hari Santri yang jatuh setiap 22 Oktober bukan sekadar seremoni mengenang perjuangan alim ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan di Surabaya. Lebih dari itu, momen ini menjadi pengingat penting bagi santri, masyayikh, dan para pemangku pondok pesantren untuk terus memperkuat komitmen menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  

Pendiri sekaligus Mudirul ‘Aam Lenterahati Islamic Boarding School (LHIBS), Dr. MA. Muazar Habibi, menegaskan bahwa sejak dahulu santri dan pesantren telah menjadi benteng utama moral, kesusilaan, sekaligus garda perjuangan bangsa. Namun, ia tidak menutup mata bahwa di balik jumlah santri dan guru yang mencapai ratusan hingga ribuan, persoalan tetap bisa muncul.  

“Hari Santri ini harus menjadi momentum bangkit kembali. Kalau ada persoalan di pesantren, jangan menunggu bertahun-tahun. Harus ada yang berani speak up,” tegas Dr. Muazar Habibi.  

Muazar memberikan apresiasi kepada LSM, LPA, dan aparat penegak hukum yang berani mengungkap persoalan di pesantren. Menurutnya, selama ini sosok tuan guru sering dianggap suci, sementara pesantren dipandang sebagai benteng moral. Namun kenyataannya, ada sebagian kecil pesantren yang belum mampu menjadi teladan.  

“Saya berikan apresiasi kepada LPA, LSM, dan aparat yang berani mengungkap persoalan di pondok pesantren,” ujarnya.  

Muazar juga menekankan pentingnya mengembalikan filosofi pendidikan pesantren sebagai ruang pembinaan yang humanis. Hukuman tetap ada bagi santri yang melakukan kesalahan, tetapi bentuknya mendidik, seperti menulis ulang surat Yasin atau membersihkan lingkungan pesantren.  

“Hukuman harus seimbang antara motorik dan kognitif. Tidak serta-merta dengan kekerasan, tapi tetap mendidik,” jelasnya.  

Peringatan Hari Santri tahun ini digelar dengan konsep berbeda. Jika sebelumnya hanya berfokus pada seremoni dengan menghadirkan pejabat, kini acara diperluas dengan melibatkan masyarakat sekitar. Berbagai pelaku UMKM diundang untuk meramaikan kegiatan, mulai dari pedagang bakso, soto, hingga siomay.  

Langkah ini diambil agar pesantren semakin dekat dengan masyarakat, sekaligus menegaskan bahwa pesantren bukan milik individu, melainkan milik bersama. Wali santri pun dilibatkan agar lebih peduli terhadap anak-anak mereka.  

“Kita rubah konsep Hari Santri ini. Biasanya santri hanya jadi penonton saat pejabat hadir, sekarang kita berdayakan UMKM dari masyarakat sekitar,” sebut Muazar Habibi.  

Dalam momentum Hari Santri, pesan khusus disampaikan kepada para santri agar terus menjaga semangat belajar, memperkuat moral, dan menjadikan pesantren sebagai ruang aman untuk tumbuh.  

Hari Santri diharapkan tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga titik balik untuk memperkuat jati diri pesantren sebagai benteng moral bangsa sekaligus bagian tak terpisahkan dari masyarakat. (H2M) 

Type and hit Enter to search

Close