Breaking News

TGH Mukhlis Ibrahim Kecam TV One, Visual Ponpes Al-Ishlahuddiny Dipakai dalam Berita Kasus Pembakaran Santri

 


Lombok Barat – Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), TGH Mukhlis Ibrahim, menyampaikan kecaman keras terhadap pemberitaan TV One yang tayang pada 10 Juli 2026 karena menggunakan visual atau latar gambar Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri dalam pemberitaan mengenai kasus dugaan pembakaran seorang santri yang terjadi di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Lombok Tengah.

Menurut TGH Mukhlis Ibrahim, penggunaan visual Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny dalam berita tersebut merupakan kekeliruan yang sangat fatal karena dapat menggiring opini publik seolah-olah peristiwa tragis tersebut terjadi di lingkungan Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri. Padahal, kata dia, peristiwa itu sama sekali tidak memiliki kaitan dengan pesantren yang dipimpinnya.

Ia menegaskan bahwa tayangan tersebut telah memicu reaksi keras dari berbagai elemen keluarga besar Al-Ishlahuddiny, mulai dari para pimpinan pondok, para tuan guru, alumni, santri, hingga ribuan jamaah yang selama ini memiliki ikatan emosional dengan salah satu pesantren tertua di Pulau Lombok tersebut.

"Penggunaan visual Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny dalam pemberitaan itu sangat kami sesalkan. Masyarakat yang menyaksikan tayangan tersebut bisa saja beranggapan bahwa peristiwa itu terjadi di pesantren kami. Padahal fakta sebenarnya sama sekali tidak demikian," tegas TGH Mukhlis Ibrahim.

Ia mengatakan, Al-Ishlahuddiny bukanlah pesantren yang baru berdiri. Lembaga pendidikan Islam tersebut telah berdiri sekitar delapan dekade atau kurang lebih 80 tahun dan menjadi salah satu pondok pesantren tertua serta paling berpengaruh di Pulau Lombok.

Selama puluhan tahun, lanjutnya, Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny telah menjadi tempat menimba ilmu agama bagi ribuan santri dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Barat maupun luar daerah. Dari pesantren tersebut juga telah lahir ratusan tuan guru, ulama, pendidik, dan tokoh masyarakat yang berkiprah di berbagai wilayah.

Karena itu, menurutnya, penggunaan visual pesantren yang tidak sesuai dengan substansi pemberitaan telah mencoreng nama baik lembaga yang selama ini dibangun dengan penuh perjuangan, dedikasi, dan kepercayaan masyarakat.

"Kepercayaan masyarakat tidak dibangun dalam waktu singkat. Kami menjaga amanah pendidikan ini selama puluhan tahun. Ketika visual pesantren kami dipakai dalam pemberitaan kasus yang tidak ada hubungannya dengan Al-Ishlahuddiny, tentu ini sangat merugikan dan berpotensi merusak reputasi yang telah kami bangun," ujarnya.

TGH Mukhlis Ibrahim juga mengaku khawatir dampak pemberitaan tersebut akan menimbulkan keresahan di kalangan para wali santri. Tidak sedikit orang tua yang mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny karena rekam jejaknya yang baik dalam membina akhlak, pendidikan agama, serta kehidupan para santri.

Ia menilai, apabila kekeliruan tersebut tidak segera diluruskan, bukan tidak mungkin akan muncul keraguan dan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terkemuka di Lombok.

"Kami sangat mengkhawatirkan munculnya kesalahpahaman di tengah masyarakat. Orang tua santri yang tidak mengetahui duduk persoalan sebenarnya bisa saja mengira peristiwa itu terjadi di Al-Ishlahuddiny. Hal seperti ini tentu dapat mengganggu kepercayaan masyarakat yang selama ini telah terbangun dengan baik," katanya.




Lebih lanjut, TGH Mukhlis Ibrahim mengungkapkan bahwa protes juga datang dari para alumni dan para tuan guru yang merupakan bagian dari keluarga besar Al-Ishlahuddiny. Mereka menilai media massa semestinya lebih berhati-hati dalam menggunakan ilustrasi atau visual pendukung agar tidak menimbulkan fitnah maupun kerugian terhadap pihak yang sama sekali tidak terkait dengan suatu peristiwa.

Menurutnya, dalam praktik jurnalistik, ketepatan penggunaan gambar memiliki arti yang sama pentingnya dengan akurasi isi berita. Sebab, visual yang ditampilkan sering kali menjadi bagian pertama yang dilihat dan dipercaya oleh masyarakat sebelum membaca isi pemberitaan secara utuh.

Oleh karena itu, pihak Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny berharap TV One segera memberikan klarifikasi sekaligus melakukan koreksi atas penggunaan visual tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral dan profesional kepada publik maupun kepada lembaga yang merasa dirugikan.

"Kami berharap ada klarifikasi dan perbaikan sehingga masyarakat mengetahui bahwa Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri tidak memiliki hubungan apa pun dengan peristiwa yang diberitakan. Kami ingin nama baik lembaga yang telah berdiri sekitar 80 tahun ini tetap terjaga," tegasnya.

TGH Mukhlis Ibrahim menambahkan, Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny akan terus berkomitmen menjaga kualitas pendidikan, pembinaan akhlak, dan keamanan lingkungan pesantren sebagaimana yang selama ini menjadi kepercayaan masyarakat.

Ia berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh insan pers agar senantiasa mengedepankan prinsip akurasi, verifikasi, dan kehati-hatian, tidak hanya dalam penyusunan isi berita, tetapi juga dalam penggunaan foto maupun visual pendukung sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi pihak lain yang tidak memiliki keterkaitan dengan peristiwa yang diberitakan.(red)


Type and hit Enter to search

Close