Oleh: Achmad Dilan Mulyadani
Tidak semua orang mampu bertahan puluhan tahun di dunia jurnalistik. Profesi yang menuntut keberanian, keteguhan prinsip, dan konsistensi dalam menjaga integritas ini hanya dapat dijalani oleh mereka yang menjadikan pers sebagai jalan pengabdian. Salah satu sosok yang membuktikan hal tersebut adalah Aminuddin, SH, yang akrab disapa Babe Amin.
Tepat pada 7 Juli 2026, pria kelahiran 7 Juli 1968 itu genap berusia 58 tahun. Sebuah usia yang merefleksikan kematangan, pengalaman, sekaligus dedikasi panjang dalam membangun dunia pers di Nusa Tenggara Barat, khususnya di Tanah Sumbawa Intan Bulaeng.
Bagi Babe Amin, jurnalistik bukan sekadar profesi untuk mencari nafkah, melainkan panggilan hidup yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia media, ia tetap memegang teguh keyakinan bahwa pers merupakan salah satu pilar demokrasi yang bertugas menyampaikan kebenaran, mengawal jalannya pemerintahan, sekaligus menjadi penyambung suara masyarakat.
Di tengah derasnya arus informasi yang kerap diwarnai kabar yang belum terverifikasi, komitmen terhadap fakta dan etika jurnalistik menjadi nilai yang tidak pernah ia tinggalkan. Baginya, kepercayaan publik adalah modal utama yang harus dijaga oleh setiap insan pers.
Sebagai pendiri dan pemilik Media Post Kota NTB, Babe Amin menghadirkan media lokal yang konsisten memberi ruang bagi berbagai persoalan masyarakat. Melalui medianya, isu pembangunan, pelayanan publik, hukum, pendidikan, hingga dinamika sosial memperoleh perhatian yang layak. Kehadiran media lokal seperti Media Post Kota NTB menjadi bukti bahwa pers daerah memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan daerah melalui informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Perjalanan panjang Babe Amin juga menjadi saksi perubahan besar industri media. Ia pernah merasakan masa ketika media cetak menjadi sumber informasi utama masyarakat hingga memasuki era digital yang serba cepat. Namun, di tengah perubahan tersebut, satu prinsip yang tidak pernah berubah adalah keyakinannya bahwa kualitas jurnalistik harus tetap menjadi fondasi utama. Kecepatan menyampaikan informasi tidak boleh mengorbankan akurasi maupun kebenaran.
Banyak jurnalis muda mengenalnya sebagai sosok senior yang terbuka berbagi pengalaman. Ia meyakini bahwa seorang wartawan bukan hanya dituntut mampu menulis berita dengan baik, tetapi juga harus memiliki integritas, keberanian, serta tanggung jawab moral kepada publik. Pengalaman dan nasihat yang ia berikan menjadi bekal berharga bagi generasi penerus untuk memahami makna sesungguhnya profesi wartawan sebagai pengawal kepentingan masyarakat.
Kontribusi Babe Amin tidak hanya tercermin melalui karya-karya jurnalistiknya, tetapi juga melalui perannya dalam membangun ekosistem media lokal yang sehat. Di tengah persaingan industri media yang semakin ketat, mempertahankan eksistensi sebuah media bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan ketekunan, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca perkembangan zaman, serta komitmen kuat menjaga independensi redaksi. Semua itu telah menjadi bagian dari perjalanan panjang yang dijalaninya.
Sebagai salah satu tokoh pers dari Tanah Sumbawa Intan Bulaeng, Babe Amin telah memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan jurnalisme di daerah. Kehadirannya memperkuat posisi pers lokal sebagai mitra yang kritis sekaligus konstruktif dalam mengawal pembangunan. Pers yang sehat, menurut pandangannya, bukanlah pers yang selalu memuji ataupun sekadar mengkritik, melainkan pers yang mampu menghadirkan informasi berdasarkan fakta dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Memasuki usia 58 tahun, semangat pengabdiannya justru menunjukkan bahwa dedikasi seorang jurnalis tidak dibatasi oleh usia. Pengalaman panjang yang dimilikinya menjadi modal penting untuk terus menginspirasi insan pers agar tetap menjaga profesionalisme di tengah berbagai tantangan, mulai dari derasnya arus media sosial, tekanan berbagai kepentingan, hingga perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
Perjalanan hidup Babe Amin mengajarkan bahwa kepercayaan publik dibangun melalui konsistensi, bukan sensasi. Seorang wartawan dihormati bukan karena banyaknya berita yang ditulis, melainkan karena keberaniannya menyampaikan kebenaran, menjaga independensi, serta memegang teguh kode etik jurnalistik. Nilai-nilai itulah yang selama ini melekat dalam perjalanan kariernya dan menjadikannya sosok yang dihormati di kalangan insan pers maupun masyarakat.
Pada akhirnya, Aminuddin, SH atau Babe Amin, bukan sekadar pendiri dan pemilik Media Post Kota NTB. Ia adalah salah satu tokoh pers yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk kemajuan jurnalisme di Nusa Tenggara Barat. Di usia ke-58 ini, perjalanan panjangnya menjadi pengingat bahwa pers yang kuat lahir dari integritas, keberanian, dan pengabdian yang tulus.
Semoga dedikasi, semangat, dan keteladanannya terus menjadi warisan berharga bagi generasi insan pers berikutnya dalam menjaga marwah jurnalistik sebagai penyampai kebenaran, pengawal demokrasi, dan suara bagi masyarakat.

Social Footer