Lombok Barat – Keluarga besar Pondok Pesantren Al Ishlahuddiny Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), menggelar duduk dengar pendapat yang dihadiri pimpinan pondok, alumni, jamaah, serta simpatisan dari berbagai kabupaten dan kota di NTB. Pertemuan tersebut digelar sebagai tindak lanjut atas pemberitaan TVOne tertanggal 15 Juli 2026 yang dinilai mencederai nama baik Pondok Pesantren Al Ishlahuddiny.
Dalam forum tersebut, seluruh peserta musyawarah menghasilkan satu sikap bersama. Mereka meminta agar pimpinan atau perwakilan TVOne Pusat di Jakarta datang langsung ke Pondok Pesantren Al Ishlahuddiny untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dan bertanggung jawab.
Pimpinan Pondok Pesantren Al Ishlahuddiny, TGH H. Mukhlis Ibrahim, menegaskan bahwa apabila permintaan tersebut tidak dipenuhi, maka keluarga besar Al Ishlahuddiny akan menggelar aksi damai dengan mendatangi kantor perwakilan TVOne di Kota Mataram.
"Apabila pimpinan atau perwakilan TVOne Pusat dari Jakarta tidak datang langsung ke Pondok Pesantren Al Ishlahuddiny Kediri, maka keluarga besar Al Ishlahuddiny akan mengambil langkah mendatangi kantor perwakilan TVOne di Mataram. Seluruh almamater Al Ishlahuddiny akan turun bersama sebagai bentuk penyampaian aspirasi," tegas TGH H. Mukhlis Ibrahim.
Menurutnya, TVOne memang telah menyampaikan permohonan maaf melalui tayangan yang dibacakan oleh presenter. Namun, keluarga besar Al Ishlahuddiny menilai cara penyampaian tersebut belum memenuhi nilai etika dan tanggung jawab moral atas dampak yang ditimbulkan.
"TVOne memang sudah melakukan permohonan maaf. Akan tetapi permohonan maaf itu hanya dibacakan oleh presenter. Secara etika, menurut kami itu kurang tepat. Kami bukan orang yang pendendam, tetapi etika penyampaian permintaan maaf itulah yang kami anggap belum pantas," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tuntutan tersebut bukan didasari keinginan untuk memperpanjang persoalan, melainkan agar penyelesaian dilakukan secara bermartabat dan menghormati lembaga pendidikan Islam yang telah berdiri puluhan tahun di Lombok.

Social Footer