Pemuda yang terlalu dekat dengan kekuasaan berisiko kehilangan kepekaan sosial
Oleh:
Daud Gerung – Ketua DPD KNPI NTB
Pemuda sejati bukanlah mereka yang paling dekat dengan kekuasaan, melainkan mereka yang mampu menjaga jarak kritis darinya. Dalam sejarah bangsa ini, pemuda selalu hadir bukan sebagai gema kekuasaan, tetapi sebagai suara nurani zaman. Mereka berdiri di garis depan perubahan karena keberanian berpikir, bukan karena kedekatan dengan kursi jabatan.
Di tengah realitas sosial-politik hari ini, godaan pragmatisme semakin kuat. Organisasi kepemudaan sering kali terseret dalam pusaran kepentingan jangka pendek. Kedekatan dengan elit dianggap prestasi, akses dianggap keberhasilan, dan posisi dianggap tujuan akhir. Padahal, ketika pemuda kehilangan daya kritisnya, saat itulah ia kehilangan jati dirinya.
KNPI sebagai rumah besar pemuda memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk tidak larut dalam pola tersebut. KNPI NTB tidak boleh sekadar menjadi ornamen kekuasaan atau pelengkap seremoni. Ia harus menjadi ruang dialektika, tempat gagasan diuji, dan keberanian moral dipelihara. Jarak kritis terhadap kekuasaan bukan berarti memusuhi pemerintah, tetapi memastikan bahwa setiap kebijakan tetap berpijak pada kepentingan rakyat, terutama generasi muda.
Pemuda yang terlalu dekat dengan kekuasaan berisiko kehilangan kepekaan sosial. Kritik berubah menjadi kompromi, idealisme berganti kalkulasi. Akibatnya, organisasi kepemudaan kehilangan fungsi kontrol sosialnya. Padahal, dalam demokrasi yang sehat, suara pemuda dibutuhkan sebagai penyeimbang, pengingat, sekaligus pendorong arah kebijakan yang lebih adil.
KNPI NTB harus berani mengambil peran itu. Menjadi mitra kritis, bukan mitra bisu. Menjadi jembatan aspirasi pemuda, bukan sekadar saluran legitimasi kebijakan. Ketika ada kebijakan yang berpihak pada rakyat, pemuda wajib mendukung. Namun ketika kebijakan melenceng dari keadilan sosial, pemuda juga harus berdiri tegak menyuarakan koreksi.
Peran ini memang tidak selalu nyaman. Menjaga jarak kritis berarti siap berbeda pendapat, siap tidak populer, bahkan siap disalahpahami. Namun di situlah nilai perjuangan pemuda diuji. Organisasi kepemudaan yang besar bukan yang paling sering berada di panggung kekuasaan, tetapi yang paling konsisten menjaga integritas sikapnya.
Jika KNPI NTB mampu memposisikan diri seperti itu, maka ia tidak hanya hidup sebagai organisasi administratif, melainkan hadir sebagai suara zaman. Ia menjadi representasi kesadaran kolektif pemuda NTB — kritis, berani, dan berpihak pada masa depan.
Sejarah tidak pernah mencatat pemuda karena kedekatannya dengan penguasa, tetapi karena keberaniannya menjaga nurani publik. Di situlah KNPI NTB harus berdiri.

Social Footer