Seputarlombok.com | Lombok Utara – Kabupaten Lombok Utara salah satu wilayah yang terdampak gempa m-7 terparah di Nusa Tenggara Barat, menghancurkan lebih dari 70 ribu rumah dari rusak berat hingga rusak ringan dan menelan korban meninggal dunia lebih dari 300 jiwa. Setelah melakukan pemetaan pasca bencana BNPB, Pemda KLU dan Badan Geologi dengan survey strucer yaitu melihat keretakan tanah dan rumah rusak, hampir semua kecamatan terdapat jalur gempa, bahkan ada satu desa dikecamatan kayangan tidak boleh lagi ada bangunan.
Berita lainnya.
Pemda Lombok utara sudah mewacanakan akan merelokasi masyakat yang ada dijalur gempa dan sedang menyiapkan lahan, sedangkan lahan-lahan jalur gempa tersebut akan dibayar oleh pemda sendiri sesaui taksiran harga dikcamatan. Dalam pemetaan yang dilakukan, masyarakat boleh memebangun rumah dengan jarak 20 meter paling dekat dengan bukit satu kilometer dari jalur gempa.
Kepala Seksi Pembiayaan Bangunan BNPB, Rambat Prastia Adi, menjelaskan sedang melakukan pemetaaan secara cepat dan menghimpun temuan atau laporan dari masyarakat untuk luas wialayah yang akan direlokasi pada jalur gempa.
Sementara pemda klu melalui Kepala Bappeda, Heryanto, menjelaskan, sekitar 26 dusun yang tercatat disemua kecamatan dilombok utara adalah jalur gempa, sehingga akan direlokasi, untuk estimasi biaya relokasi sekitar 401 miliar rupiah belum oprasinal, dan harga tanah akan disesuaikan pada setiap kecamatan. Konsep yang akan dilakukan untuk jumlah lahan pemukiman adalah dua are dilahan tidak jalur gempa.
Untuk sementara ini, catatan pemda sendiri 8 desa merupakan jalur gempa yang ada di lima kecamatan, yaitu Desa Dagiang, Mumbul Sari, Gumantar, Slengen, Samik Bangkol, Sokong, Pemenag Barata Dan Pemenang Timur. Untuk patahan aktif sendiri didarat tidak ada sedangkan patahan aktif berada di laut saja. Melihat jalur gempa tersebut area pemukiman Lombok Utara akan menyempit dan terbatas.(mu)

Social Footer